Revolusi Industri 4.0, sebuah Refleksi

2018-08-10 10:06:08

Firdaus Ahmadi

Radaktur Pelaksana Jurnal Sekolah Tinggi Teknologi dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Banten

Redaksi sabhawana.info, stkipbanten.ac.id dan sekolahtinggiteknologibanten.ac.id

 

Presiden Joko Widodo mengingatkan para pelaku UMKM untuk mengikuti perubahan global yang terjadi sangat cepat. Dunia saat ini mengalami revolusi industri 4.0. “Sekarang jualan online, gunakan Facebook, Instagram, video di Youtube karena memang dunia sudah berubah.  Jangan hanya menunggu di toko kita,  orang lain sudah jualan di internet," kata Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pada acara peluncuran penerapan PPh final 0,5 persen untuk UMKM di Jatim Expo, Surabaya.(sumber: Presiden Ingatkan UMKM Ikuti Revolusi 4.0 dengan Jualan Online, kominfo.go.id)

 

Lalu sebenarnya apa yang dimaksud dengan revolusi industri 4.0? seperti dikutip di laman inet.detik.com -   Konsep revolusi industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Klaus Schwab, Ekonom terkenal asal Jerman itu menulis dalam bukunya, The Fourth Industrial Revolution bahwa konsep itu telah mengubah hidup dan kerja manusia. Dimulai revolusi industri di: (1). akhir abad ke-18, (2).  awal abad ke-20, (3). awal 1970 dan (4).  awal 2018 -  inilah yang disebut zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana. Istilah ini dikenal dengan nama internet of things (IoT). (sumber:Mengenal Konsep Revolusi Industri 4.0, inet.detik.com)

 

Di sisi lain revolusi industri 4.0 menghadirkan hal – hal baru dalam berbisnis terutama strategi  bidang penjualan dan pemesanan produk dengan sistem online (e-commerce), membuat produk – produk yang dijual secara offline sedikit demi sedikit tersingkir, berlawanan dengan sistem online yang membuat harga produk barang lebih murah, cepat  dan mudah

 

Walaupun para Executife dari perusahaan – perusahaan online bisa berdalih dengan mengatakan: “tidak ada hubungannya dengan kami bahwa produk – produk online lebih diminati dari produk – produk offline” alasan yang dikemukakan adalah; mungkin persaingan yang ketat, perekonomian yang sedang fluktuatif,  dan kurangnya daya beli masyarakat, sialnya hal yang sama diamini juga oleh para Executife perusahaan - perusahaan offline, sebuah paradok.  Padahal sekilas kita menyaksikan bahwa dimana – mana perekonomian sedang krisis atau tidak,  fluktuatif atau tidak – konsumen akan selalu memilih barang – barang yang mudah, berkualitas, cepat dan murah.

 

Menggunakan alasan strategi revolusi indusri 4.0 maka strategi pemasaran produk – produk barang dan jasa dengan sistem online atau e-commerce telah sukses secara tidak langsung menutup toko – toko ritel offline terkenal seperti Matahari (Pasar Raya Manggarai dan Pasar Raya Blok M), Debenhams, Lotus, Disc Tara dan Seven Eleven.

 

Revolusi ini sukses mengexploitasi sisi psikologis masyarakat Indonesia terutama di kota – kota besarnya yang setiap hari terjebak aktifitas melelahkan seperti kemacetan, kerja kantoran yang harus ontime, tekanan tugas dari kantor atau dari kampus – kampus yang membuat masyarakatnya menjadi tertekan dan stres, lalu timbullah revolusi ini,  buat apa datang jauh – jauh untuk makan dan minum, beli barang – barang kebutuhan primer, sekunder dan lain – lain  kalau harus lagi datang ke tempat – tempat tersebut dan meninggalkan aktivitas yang melelahkan sehari – hari, tokh tinggal klik/wa/sms bisa didapatkan dan bisa diantar. Dengan kata lain revolusi ini sangat membantu sekali masyarakat urban, dan seperti yang diperkirakan diatas maka tutuplah toko – toko ritel tersebut dan berakibat sepi mall – mall tempat toko – toko itu berada. 

 

Efek samping dalam sisi sumber daya manusia atau pekeja dari revolusi ini adalah; sebagian besar mall – mall yang jadi sepi pengunjung  dan toko – toko ritelnya yang  terancan mem – PHK karyawannya, belum lagi nasib perusahaan - perusahaan transportasi offline seperti; taksi Blue Bird dan Expres yang sahamnya langsung anjlok di Bursa Efek  Jakarta akibat revolusi ini. Walaupun Executife perusahaan aplikasi transportasi online mengklaim sudah ada kurang lebih 1.000.000 tenaga kerja sebagai pegendara transpostasi online yang tersebar di kota – kota besar di Indonesia, namun harus juga diperhatikan imbas dari revolusi ini adalah nasib para pekerja sistem offline.

© 2018 TRIK ALFAT. All rights reserved.